Tanggal 12 Juli 2010 kebanyakan sekolah akan kembali memulai kegiatan pembelajarannya. Dalam menyambut akan dimulainya hari masuk sekolah ini kebanyakan siswa kurang begitu antusias. Di antara mereka ada yang bilang, “Yah. Libur tinggal sehari”, “Sebentar banget sih liburnya”, “Yah. Siap-siap terima tugas dari guru lagi deh” dan lain-lain. Ungkapan para siswa menjelang berakhirnya masa libur mereka itu menggambarkan satu keadaan bahwa ternyata sekolah bukanlah tempat yang benar-benar mereka senangi dan inginkan. Sekolah tidak menjadi tempat nyaman dan aman bagi mereka, tidak memberi keleluasaan dan melayani keinginan mereka. Sebaliknya sekolah dirasakan sebagai tempat yang menakutkan, selalu menuntut, pelit memberi pujian dan penghargaan, lebih sering mencela daripada memberi dorongan. Sekolah di mata mereka benar-benar tidak menyenangkan bagaikan sebuah penjara. Tentu ada pengecualian. Ada beberapa sekolah yang telah benar-benar mengubah pola pendidikannya dari sekedar Pengajaran ( yang menganggap siswa sebagai obyek ) menjadi Pembelajaran ( yang memandang siswa sebagai subyek ). Tetapi sekolah yang seperti ini masih sangat sedikit. Kalaupun ada ia sangat elitis sehingga tidak terjangkau oleh orang-orang miskin. Mengapa para siswa itu enggan datang ke sekolah meski telah melewati libur panjangnya? Boleh jadi karena sekolah dianggap tidak pernah melayani kebutuhan mereka. Sehingga kedatangan mereka ke sekolah lebih cenderung terpaksa. Soal kebutuhan, apa sebetulnya yang dibutuhkan oleh para siswa itu? Sebagai manusia, kebutuhan para siswa itu paling tidak bisa dianalisa melalui Teori Kebutuhan yang dikemukakan Abraham Maslow sebagai berikut 1. Kebutuhan Fisiologis Pada tingkat kebutuhan fisiologis ini, ada sejumlah fakta di mana sekolah mengabaikan atau paling tidak kurang serius memberikan pelayanan kepada para siswanya. Misalnya pemberlakuan jam sekolah, Dari satu kasus ini saja ada sejumlah kebutuhan fisiologis siswa yang terampas atas nama sekolah. Karena harus berangkat lebih pagi akibatnya jam tidur mereka jadi berkurang dan tidak sempat sarapan pagi yang akan berakibat turunnya daya konsntrasi . Setelah berada di sekolah mereka juga masih harus berhadapan dengan larangan makan dan minum ketika pelajaran sedang berlangsung di kelas dan jam istirahat yang terlalu pendek sehingga mereka tak sempat sarapan di kantin. 2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan Dalam hal keamanan para siswa juga sulit mendapatkannya di sekolah. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana siswa-siswi kelas 9 SMP sering ditakut-takuti ‘gak lulus’ ujian nasional kalau sampai mereka tak serius belajar. Demikian juga sejak mereka masih di kelas 7 dan kelas 8. Entah sudah berapa kali mereka mendengar kata-kata ‘malas’ dan ‘nakal’. Kalau ada siswa yang kedapatan mengambil barang temannya tanpa izin, mereka langsung saja dikriminalkan sebagai seorang pencuri. Sebagai lembaga pendidikan, rasanya lebih tepat kalau dalam menangani kasus semacam itu tidak membesar-besarkan faktanya saja tetapi lebih ke masalah mengapa siswa sampai melakukan perbuatan itu. Inipun harus dilakukan secara tertutup dan dengan cara yang tetap memulyakannya sebagai manusia, apalagi mereka masih berstatus siswa yang nota bene masih berproses untuk ‘menjadi orang’. 3. Kebutuhan Sosial Kenyataan lain yang masih sangat mudah kita jumpai di berbagai sekolah adalah adanya siswa-siswi yang berkepribadian tertutup ( introvert ). Mereka dengan kepribadian ini cenderung tidak dikenal guru bahkan terkesan diabaikan. Apalagi bila mereka secara akademik juga tidak menonjol prestasinya. Maka mereka benar-benar kehilangan akses ke gurunya. Seharusnya para guru mengarahkan perhatiannya secara khusus kepada siswa-siswinya yang seperti ini agar mereka terdorong untuk sedikit membuka diri terhadap guru dan teman-temannya. Harus ada rekayasa sosial yang diciptakan guru sehingga secara tak langsung akan membawa serta mereka pada pergaulan yang lebih sehat di sekolah. |